0

Persiapan Minggu Depan

Sebentar lagi mulai masuk stase baru. Stase terakhir menuju sebuah kemerdekaan yang dinanti-nanti oleh spesies seperti gue. Horeee..horeee. 
**
Jadi gak sabar buat cepat-cepat menuntaskan apa yang membelenggu pikiran dan tenaga, serta hari-hari yang sebenarnya membosankan. Jadi, mulai minggu depan gue bakal ketemu orang-orang yang akan buat gue ikutan gak waras. Ya, gue bakal dinas di RSJ. Dan bukan gak mungkin selama dinas disana, hari-hari gue akan jadi hari yang diselimuti perasaan yang sama, dengan orang-orang di RSJ. Semoga aja tidak menular setelah gue kelar dinas disana.
Hanya perlu kesabaran, serta ketangguhan mental aja. Jadi persiapannya gak ribet-ribet amat. Gue juga harus buat beberapa laporan pendahuluan untuk kasus yang terjadi disana, dan akan dipertanyakan, apa yang sudah kita buat dalam laporan tersebut. Seru sih ngadapin pasien yang tidak seperti biasanya. Hmm. 
Anyway, gue harus lebih waras dari pasien-pasien ini nanti. ntar gue ceritain lagi kegiatan apa aja yang udah gue lakukan disana ntar.
WISH ME LUCK….. 
0

Pengen Berkarya

Jadi ceritanya aku sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan nulis diblog ini.  Sebelumnya emang gak terlalu sering seperti ini.  Dikarenakan belum available aja untuk curahin apa aja dalam blog ini.  Nah,  secara aku juga belum terlalu fasih dalam menulis blog, kadang perlu untuk menentukan apa sih yang harus aku isi,  apa sih yang harus aku ceritain dalam blog ini selain soal kehidupanku sendiri.  Nda mungkin kan semua melulu soal privasi. 
Ya sebenarnya ini gak lebih dari sekedar belajar aja dalam media yang berbeda. Kalo biasa sering twitteran,  jadi kenapa gak aku bikin aja satu blog dimana aku bisa menuangkan apa aja yang ada dipikiranku. Kebetulan juga aku orangnya suka berpikir,  suka melihat sesuatu itu jauh lebih rasional,  okelah,  media ini bisa aku manfaatkan untuk aku cuap-cuap disini. Lebih praktisnya mungkin bisa dibilang diarynya aku lah kira-kira begitu.
Jauh lebih penting lagi,  disini aku mau berkarya aja lewat tulisan aku.  Emang sih gak terlalu penting amat.  Tapi ya apa salahnya aku mengaplikasikan segalanya yang ada dipikiranku,  untuk aku presentasikan disini.  Dari pada gak diapa-apain kan jauh lebih disayangkan kalo ternyata ada ide-ide yang bisa aku torehkan disini. Kalo aja ini aku lakukan jauh lebih lama dari sekarang,  mungkin gak akan banyak kehilangan tentang apa yang udah aku dapatkan dalam hidup.
Dulu lebih sering aku tuangkan kata-kata dalam aplikasi facebook,  lalu media sosial itu sudah cukup membosankan buat aku pribadi,  jadi twitter pilihan yang sampai sekarang masih aku gunakan selain disini.  Akan ada peralihan ketika sesuatu yang kita sudah gunakan, ternyata bikin jenuh. I HOPE THIS IS NOT WHILE I’M HERE.  BE FUN. 
Bukan juga ingin menjadi penulis, tapi aku hanya melangkah kesuatu hal yang belum pernah aku buat. Kalo sebelumnya aku pernah nyoba untuk merekam beberapa lagu yang aku buat,  ya recording ecek-ecekan lah. Sekedar mencoba gimana sih rasanya membuat atau merekam lagu yang aku buat sendiri distudio rekaman. 
Ada beberapa lagu sudah aku rekam,  nanti aku posting juga di blog ini. Beberapa ada lagu rohani,  sisanya yang sekuler. Tapi jangan ngece ya kalo hasilnya tidak sebagus orang-orang yang sudah profesional,  hahaha. Karena emang hasil mixingnya tidak jernih,  masih terdengar tidak seperti dimixing. Soalnya soundcardnya yang di pake aja yang 16db, so unsatisfactory to be enjoyed. Tapi gak masalah,  yang penting sudah ada karya aja aku udah senang.  Walau belum memuaskan, dan aku masih pengen berkarya lagi lewat talenta yang aku miliki sekarang.  Hayee!
HAVE A NICE DAY DUDE.
0

Peran Terbaik

Aku sendiri gak pernah tahu, seperti apa peran terbaik sebagai manusia untuk membuat dirinya berkarakter.  Ada banyak konten secara individu yang mempresentasikan dirinya untuk menjadi manusia yang berkompeten. Mungkin, beberapa dari kita secara gak langsung membangun pribadi yang ingin punya vitalitas bagus,  integritas terbaik,  etika dan moral yang kadang jauh tidak layak dari yang sebenarnya. 
Aku sendiri masih mengutak-atik jati diri sebagai manusia yang berbudi pekerti dimasa sekarang.  Karena gak layak kalo aku langsung memvonis diriku sendiri adalah manusia yang sempurna dimata sejuta umat.  Bahkan untuk menjadi pemimpin untuk diriku sendiri aja aku terkadang masih kalang kabut,  masih suka bernegosiasi dengan ego yang selalu tidak pada kapasitasnya.  Anyway,  aku akan tetap menjadi pribadi yang penuh percaya diri terhadap kesulitan apapun, dan dalam kegoncangan hidup. Karena aku punya Tuhan yang selalu berada diposisi manapun aku bertindak dan berkarya dalam hidup, baik aku sedang berdiri tegak,  bahkan disaat aku sedang down. 
Banyak orang mengatakan bahwa, peluang menjadi manusia yang penuh vitalitas tinggi adalah dengan adanya keburuntungan yang hakiki.  Wow? Aku jadi berpikir,  bagaimana bisa manusia hanya mengandalkan si lucky semata,  disaat orang-orang yang berjuang keras dan berdoa, malah dianggap tidak sebaik mereka yang selalu mempunyai keberuntungan semata tanpa adanya usaha dan doa?. 
Bukankah manusia mempunyai peran terbaik dibalik itu semua? 
Ya.  Buat aku peran terbaik itu adalah dimana kita mempercayakan itu semua kepada Tuhan.  Jadi keberuntungan hanyalah kasat mata dari sebagian hidup,  dan kita memperolehnya bukan dari kepercayaan kita terhadap Tuhan. Sesuatu itu akan menjadi sesuatu yang lebih berefek kalo aja manusia tahu bagaimana membuat dirinya membangun konsep pribadi yang penuh kepercayaan terhadap Tuhan. Mungkin aku bicaranya terlalu religi ya,  tapi sebenarnya emang iya.  Kita ada aja karena berkat anugrahnya kok. Bukan karena keberuntungan yang terjadi disetiap harinya. Oke.  Mungkin materinya terlalu serius kali ya dari tulisan sebelum-sebelumnya.  Hehehe. 
Jadi mungkin aku mau bicara peran terbaik dalam keseharian aja kali ya. Kayak peran orangtua terhadap anak. Masih banyak yang aku liat dan aku dengar bagaiamana peran orangtua yang kurang spesial terhadap anaknya. Misal, ketika anak sudah harus memutuskan untuk memilih masa depan sendiri sesuai kemampuan anak, namun orangtuanya malah secara langsung tetap memberi keputusan sendiri, dibanding menyerahkan sepenuhnya kepada anak. Ada lagi soal jodoh,  dimana era siti nurbaya masih berlaku keras dalam sistem keluarganya, dan masih banyak lagi. Padahal, sebenarnya peran orangtua ketika anaknya sudah berumur dan dewasa adalah mensupport dan memberi nasehat,  serta masukan, terhadap langkah apa yang diambil oleh anaknya. Jangan sampai cita-cita anak jadi tidak ada akibat keegoisan orangtua. Apapun harus ikut kata orangtua, anak mau jadi apa harus ikut kata orangtua,  anak mau memilih pasangan juga harus ikut kata orangtua. 
Bukan curhat ya,  tapi aku menyampaikan hal ini bukan dari sisi kehidupanku aja,  masih banyak loh peran orangtua yang seperti ini.  Aku tidak juga menyalahi mereka (orangtua), tapi lebih menekankan bahwa anak punya batas waktu,  dimana mereka juga punya arahnya sendiri,  punya pandangan hidupnya sendiri,  bahkan sudah melihat apa sih potensi yang anak punya untuk dia menjalani kehidupannya. Nah sebagai orangtua,  tidak melulu apa yang mereka inginkan menjadi tolak ukur keberhasilan anak pada saatnya nanti.  Orangtua harus tahu kapan dan bagaimana memperlakukan diri mereka kepada anak-anaknya. 
Peran penting orangtua adalah mendoakan anak mereka,  supaya apa yang anak-anak mereka jalani bisa berjalan baik dan sukses. Toh itu juga akan membanggakan orangtua ketika anak mereka bisa meraih kesuksesan yang terbaik.
Aku cuma mengharapkan, seberapa penting peran orangtua terhadap anak sesuai dengan kapasitasnya, bisa disadari dengan tidak mengabaikan hak-hak anak dalam membangun masa depan mereka sendiri.  Anak mau menjadi apa nantinya,  dukung aja selama itu juga hal yang tidak akan merugikan masa depan anak, karena ketika seorang anak yang sudah dewasa pastinya, akan jauh lebih bisa mempertanggung jawabkan apa yang mereka sudah tentukan. Percayakan aja pada Tuhan,  kalo seorang anak tidak akan membuat dirinya terjatuh ketika sudah menentukan mau seperti apa mereka nantinya. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan?  Bukankah hidup soal bagaimana kita menjalaninya?  Kan gak mungkin orangtua selalu pada porsinya terhadap masa depan anak,  seorang anak juga punya porsinya dalam hidup. 
Bagaiamana mereka menentukan suatu pekerjaan yang layak sesuai kapasitasnya,  bagaimana mereka melihat suatu peluang,  lalu akan ada langkah yang harus mereka ambil, untuk memposisikan diri mereka sebaik mungkin. Makanya, bukan tidak baik kalo orangtua juga melihat potensi dan bakat anak sejak dini. Apa sih yang mereka bisa?  Bakat atau talenta apa sih yang mereka punyai? Ini juga harus disadari sebagai orangtua pada umumnya.  Bukan tidak mungkin juga, talenta yang dimiliki seorang anak sejak dini menjadi pondasi kesuksesan mereka nantinya. Sekarang tinggal langkah orangtua inilah,  bagaimana meletakkan atau mengarahkan bakat si anak ini pada tempatnya,  bukan malah mematikan potensi yang ada pada anak-anak mereka. Sangat disayangkan kalo harus seperti ini.
Hmmm.  Okelah, mungkin sampai disini aja apa yang bisa aku sampaikan lewat tulisan ini.  Bermanfaat atau tidak,  tergantung yang menyadarinya aja sih. Mandi dulu ah!  Bhay. 
0

INSOMNIA (again)

Seperti biasa mata suka bandel kalo jam-jam segini.  Jadi dari pada bengong liatin cicak kawin,  akhirnya aku mutusin untuk ketak ketik aja disini.  Tapi mau nulis apa ya?  Hmmm.
Oia. Tadi baru dapat kabar dari adik gue di bbm,  katanya bokap jatuh dari motor pas mau pulang kerumah.  Spontan aja gue pas dengar kabar,  langsung telpon bokap lewat smarphone nyokap.  Katanya sih gak kenapa-kenapa,  gak parah juga, cuma cedera dikepala sama luka dibagian telinga. Karena gue lagi dikota pontianak,  dan keluarga ada dikota singkawang,  jadi gak bisa ketemu langsung.  Sampai sekarang masih khawatir, masih gak puas aja kalo gak liat keadaan bokap secara langsung gitu.  Ya moga aja sih gak kenapa-kenapa. Amin.
Ini kali kedua bokap jatuh dari motor.  Setau gue sih ya.  Dulu yang pertama itu disenggol sih tepat didepan rumah,  sehabis bokap pulang kerja.  Kejadiannya pas bokap mau nyebarang kearah sisi jalan mau menuju rumah,  tapi ada motor gak fokus liat sen motor bokap gue,  jadinya motor yang arah depan satu arah dengan bokap, nabrak. Syukur bokap gak kenapa-kenapa juga waktu itu.  Yaa cuma cedera dikepala aja sih. Kalo istilah medisnya itu hematom (pembengkakan). Dan yang nabrak itu ternyata anak usia belasan tahun.  Gue lupa berapa umurnya. Gak penting juga. Yang jelas itu anak gue marahin abis-abisan depan orangtuanya.  Dari pihak kami,  kamk gak meminta ganti rugi,  mengingat ekonomi keluarga dari anak tersebut juga tidak memungkinkan. Jadi ya,  segimananya mereka aja lah terhadap pihak kami.  Namanya juga musibah.  Gak ada yang tau. Gak ada juga yang mau. 
Makin larut aja. Mata masih seger lho!  Omaigotttttttt…. 
Padahal besok harus bangun pagi, ya gak ada kepentingan apa-apa juga sih.  Tapi kudu bangun pagi,  soalnya gue udah mulai jarang lagi liat matahari pagi.  Selera gue tiba-tiba berubah kalo ketemu pagi, bawaannya pengen molor aja. Kalo ada lomba begadang, mungkin gue bakal daftarin diri deh buat ikutan. Dengan penuh keyakinan gue pasti juaranya. Hahahaha.  Tapi kalo begini terus gue gak yakin pertumbuhan gue bisa lebih produktif, bahkan bisa jadi gue cenderung pelupa atau kapasitas imun gue menurun.  Alhasil badan gue drop drop drop!! Dasar penyakitan.  Eh salah,  dasar kalong. 
HOAMMMMMMMM….. 
Biasanya yang jadi tool gue buat ngebantu gue bisa cepat tidur itu,  gue pasti main UNO.  Game ini lagi happening dikehidupan gue. Gue bahagia. Soalnya kalo kelamaan main uno,  mata gue rada stun, nah disitu gue merasa ngantuk.  Tapi beberapa hari ini kayaknya udah gak ngefek buat merayu kedua mata gue untuk  segera tidur.  Ohh kenapa lagi. Tapi gak masalah, masih ada solusi,  eng ing eng… OBAT TIDUR.  Ya obat tidur yang menjadi solusi terakhir disaat-saat permainan uno tidak cukup membantu pola tidur gue. Kali ini gue pastiin gue bakal tidur dengan seksama.
BOBO AHHHHH… 
0

Ketika merasa bersalah

Malam ini gue mau nulis seseuatu yang sebenarnya ngebuat gue merasa bersalah, ketika gue udah terlanjur lakukan sesuatu yang sangat fatal. Ya.. fatal. Ntah emang karena gue yang keterlaluan atau keinginan yang dipaksain,  yang pasti diri gue udah cukup menanggung beban yang beratnya minta ampun gak minta maaf.  Jujur gue sekarang kepikiran terus,  walau seper-berapanya lagi ada kesenangan juga.  Tapi lebih berat kebebannya kalo gue rasain.  Kasihan gue. Benar-benar kasihan,  kalo hanya karena sebuah keinginan, gue sampe harus menaruh beban bersalah ini dipikiran gue.  Ya Tuhan..  Forgive me.
Setelah kejadian ini terjadi,  gue mikir,  dimana otak gue? dimana perasaan gue?.
Kalo tadi siang gue bisa lebih wise dikit aja, untuk tidak sebodoh ini,  untuk tidak sekonyol ini,  mungkin perasaan gue gak semerawut dan gelisah gini.  Inilah gue, yang terlalu berpikir untuk mencari kesenangan semata,  pengennya harus dapat dan harus memiliki secepat itu juga,  lalu penyeselan juga mengikuti gue pada akhirnya.  Dan apa yang gue udah dapati itu tadi,  ngak begitu gue nikmatin. Hmm..  rasa-rasanya pengen nangis kalo kepikiran hal ini.
Bahkan untuk memikirkan apapun rasanya gak bisa mengalihkan ini semua, ada terus rasa bersalah itu dipikiran gue.  Sekarang udah jam 01:21 pagi. Benar-benar keadaan yang semakin menyudutkan posisi gue, seakan menghakimi tindakan konyol yang udah gue lakukan siang tadi. Lalu menampar segala kebusukan diri gue,  memaki-maki attitude gue,  dan gue sadar kalo gue emang pribadi yang tidak bertanggung jawab.
 
I’M SO SORRY.
0

Update Lagi. Setelah Habis Sakit

Akhirnya punya niat lagi buat nulis, setelah beberapa waktu tertunda. Dan sebenarnya sih lebih kepada apa yang pengen gue tulis aja, jadi sempat mandet (kalah-kalah macetnya jakarta), bingungnya itu tadi. Trus kebetulan juga beberapa hari yang lalu gue sempat kurang fit, karena capeknya gue udah diluar kapasitas pertahanan tubuh gue. Dan gue nyerah (lambaikan tangan). Gue lagi ngerasa apa yang gue hadapi baru-baru ini sangat ngak produktif. Ntah karena fenomena gerhana matahari kemarin atau apa, gue juga gak paham, yang pasti batuk gue belum juga berakhir. Tiap harus bicara beberapa kata gue harus ohok-ohok berulang kali. Nah, yang sangat menganggu kalo gue mau tidur, posisi kayak gimana pun sangat gak ngedukung gue untuk langsung lelap. Kampret.
Gue bukan orang yang harus minum obat juga kalo lagi sakit ringan. Gak biasa aja kalo sakit dikit harus minum obat, pusing dikit minum obat, gak enak aja. Rasanya kalo minum obat itu apa yang gue telen bakal meledak kayak bom atom. Bahan kimia yang ada dalam perut gue bereaksi jadi zat yang meng-anehkan perasaan gue. Sugesti gue berlebihan. Hahaha.
Beberapa teman gue yang udah tau blog gue ini pada nanyain, sebenarnya blog gue tentang apa. Nah blog gue ini, gak lebih dari tempat dimana gue bisa curhat, baik keluh kesah gue, keseharian gue, dan yang paling sederhana adalah: GUE BELAJAR UNTUK NULIS.
Hal yang paling menarik perhatian gue tentang blog ini adalah gue bisa se-idealis yang gue mau, bisa nyeloteh apapun yang gue suka, bisa have fun dengan gaya pemikiran gue sendiri. Karena tipe manusia se-primitif kayak gue ini, lebih menyukai cara berpikir yang fleksibel. Jadi apa aja dipikirkan, contoh: kenapa tiap orang telponan harus pake manja-manjaan yang kadarnya udah hiperbola sangat, kenapa kopi harus diracik dengan bijak, kenapa superman sangat populer padahal pake CD aja diluar, dan masih banyak lagi. Tiap hari gue selalu nyari fenomena aneh disekitar gue untuk gue jadiin topik dalam tulisan gue ini. Kadang yang mempersulit gue sendiri adalah gue terlalu idealis, teramat sangat idealis untuk gue share diblog ini. Jadi, ya udah, gue mungkin harus lebih jujur aja kali ya buat segala sesuatunya dalam blog ini biar natural aja. woyo woyo..
Untuk lebih banyak dapat gregetnya dalam penulisan diblog ini, gue pribadi udah mulai belajar dari beberapa literatur di-utube, dan cukup membantu. Mungkin belum paham benar juga sih sebenarnya, ada beberapa basic juga yang harus dipelajari biar cara dan gaya penulisan bisa se-kreatif mungkin untuk dibaca pada akhirnya.
By the way, Dimedia sosial gue lebih aktif di twitter ini. See you there. 
0

Bukan Curhat

Kalo sebelumnya ada topik yang harus mikir buat nulis, kali ini asal ketak-ketik aja. Gak tau rada emoh mau nulis sesuatu yang sifatnya privat. Jadi sekarang yang ada diotak gue cuma: kenapa ada yang namanya Spoiled by Phone.
Jadi, selain gue yang ngalamin, temen satu kontrakan gue juga ngelakuin hal yang sama ketika berbicara via telpon dengan pacarnya. Risih. Udah melebihi kadarnya aja buat gue. Kayaknya gue gak segitunya benar dengan pacar, apalagi intonasinya itu kalo udah manja-manjaan, kuping gue rasanya berdengung, lanjut vertigo. Setiap malam gue harus dengerin nada-nada yang gue jadi ngerasa risih akan ucapan-ucapan seperti itu. Gue aja kalo lagi telponan dengan pacar, biasa aja, malah banyak diem kalo bingung mau ngomong apa, gak melebihi kadar yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang memualkan. Hueeekk. Oh kurang panjang ya, hueekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk (stop). Berkali-kali gue mikir kenapa harus bermanjaan ditelpon, sedangkan kita gak berbuat apapun untuk memanjakan pasangan, lewat kontak fisik seperti: belai rambut, elus-elus tangan pasangan, saling menatap mata pasangan, bahkan mungkin dengan sebuah pelukan hangat. Hanya sebuah kata-kata yang sebenarnya belum tentu itu sarat akan makna. Jadi setelah gue nulis ini, gue jadi huekkkk dengan diri gue sendiri pas ngebayangin kelakuan gue yang pernah seperti itu. Hahaha.
Nah. Untuk menghindari spoiled by phone yang melebihi kadarnya itu tadi ketika berbicara dengan pasangan melalui handphone, gue sarani untuk:
1) Bicarakan topik yang sedikit serius mengenai apapun dengan pasangan. Apa aja.
2) Sebisa mungkin buatlah pembicaraan yang mengandung joke ringan ditiap pembicaraan.
3) Hindari keinginan untuk meminta sesuatu yang sifatnya romantis ketika hal itu sangat gak mungkin untuk dilakukan.
4) Disarankan ketika telponan, wajib diselingi musik grunge. Jangan lagu romantis, karena itu akan meng-stimulus kita untuk bersikap melankolis dadakan.
Gaya pacaran jarak jauh terkadang emang ngebuat sesuatu itu jadi serba lebih-lebih. Hubungan tetap jadi semakin intens ketika mengharuskan untuk sering komunikasi. Enggak puas lewat kata-kata, pengennya dengerin suara, enggak puas hanya dengerin suara akhirnya bela-belain buat bisa ketemuan.