Bukan Untuk Dikonsep

Kepalaku mulai berat, tapi aku tetap menunjukan kesanggupanku menahan beban dikepala ini. Orang-orang disekitarku sudah menikmati masa lelapnya dialam mimpi.

Aku hanya diam, dengan mengerutkan dahi yang disekitarnya terdapat beberapa jerawat kecil. Jangankan untuk berdiri dan melangkah, bahkan memejamkan mata walau semenit pun serasa akan kehilangan moment dari pandanganku. Didepanku ada segelas kopi yang gak pernah luput dari kebiasaanku saat mendengarkan lagu. Sekarang jam 01.16 pagi, dan mataku belum sanggup membawaku untuk terlelap, mungkin efek cafein yang aku teguk. Harusnya aku sudah tidur.

Sejak pagi tadi, sebenarnya aku mulai merasakan kegaduhan dipikiranku. Dimulai dari pertanyaan klise untuk diriku sendiri, kemudian dihadiri beberapa hal yang belum terselesaikan selama ini. Intinya, aku seperti didesak sesuatu yang mau gak mau harus aku tuntaskan.

Dari hari ke hari apa yang aku lakukan gak seberapa penting, bahkan teramat sepi dari kesibukan. Layaknya mereka yang memulai pagi dengan rutinitas kantoran, seperti anak-anak yang bersemangat walau mata mengantuk untuk berangkat kesekolah, tapi berbeda dengan aku.

Kadang untuk bangun sepagi mungkin, aku harus mengekstrakan mata yang selalu dimanjakan. Bahkan lebih parahnya, aku biasa memperpanjang masa terberat dipagi hari. Kehidupan pagi memang moment pahit dalam hidupku untuk ditaklukkan.

Sekedar melawan arus dari hal-hal yang seharusnya, aku bernegosiasi dengan hati nuraniku. Lupa kewajiban, bertindak ceroboh, pragmatis akut, semua jadi satu. Hanya karena aku merasa ini semua diluar kapasitasku, lalu sesuka hati menerjang dan berlari kemana pun aku mau.

Mereka gak pernah bertanya: “seperti apa hidup yang kamu inginkan? harus bagaimana kami terhadapmu?”

Harusnya aku mendapatkan kelayakan untuk menuntun secara mandiri garis hidupku. Bukan bearti aku tidak membutuhkan perhatian, atau campur tangan mereka, bukan. Hanya saja aku harus bisa menyatakan kepada orang-orang terhadap hidupku yang sarat akan kebahagian. Dan kebahagian itu layak aku dapati dari apa yang aku jalani.

Sebenarnya aku rada muak untuk terus menceritakan tentang ini. Karena memang gak ada konsep untuk kalian yang membaca tulisan ini.

Anyway, yang merupakan gelar kehidupan bukan soal pangkat atau kekayaan semata, tapi lebih mencari seluk beluk kerikil kebahagian untuk dinikmati sampai… KOPI MENJADI SELERA TINGGI BAGI PENDERITA HYPERTENSI. *lol

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s