Sebongkah Batu Besar

Sekarang aku lagi duduk disebuah tempat yang cukup menyenangkan. Warung kopi tepat didepan rumah sakit swasta, dengan area parkiran yang tidak cukup luas. Pandangan mataku selalu tertuju dikeramaian orang yang lalu lalang memasuki rumah sakit, dan lainnya menuju warung kopi ini.

Perutku sudah cukup kenyang setelah menyantap pangsit rebus yang aku pesan didepan warung kopi ini. Dengan segala ketidaknyamanan yang ada dihati dan pikiranku, aku berusaha untuk menikmati saat ini. Bahkan aku berupaya melupakan sedikit demi sedikit hal-hal ironis, yang cukup menekanku hingga beberapa hari ini.

Dua hari ini badanku drop. Pikiranku tidak senyaman orang-orang yang terlihat happy disekitarku. Aku pengen tahu, senyaman apa sih yang mereka rasakan? seperti apa sih cara mereka bisa menikmati keadaan yang aku yakin, mereka juga punya masalah?

Aku yakin, mereka punya cara untuk itu, untuk memperlihatkan bahwa mereka bisa terlihat baik-baik saja.

Tidak seperti aku saat ini. Aku berkaca melihat ketidaknyamanan pada raut wajahku, benar-benar ada yang salah. Bahkan kalo aku bertemu teman-temanku, mereka pasti bertanya: “lesu banget vin, ada apa? ada masalah kah? atau lagi sakit? seperti itulah pertanyaan yang mungkin akan dipaparkan kepadaku.

Ya. Aku adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang sedang kacau. Akan terlihat walau tidak dari raut wajah, karena ada sikap lain yang bisa mereka presepsikan tentang keadaanku saat itu juga.

Aku sangat kacau. Benar-benar kacau. Karena kalo sudah diposisi seperti ini, aku lebih asik menikmati dengan sendiri, sambil menghirup asap yang aku tahu mengandung zat berbahaya buat tubuhku (baca: nikotin). Ingin rasanya berlari sekencang mungkin, sampe aku merasakan lelah yang luar biasa, lalu berbaring dalam kelelahan itu, membiarkan detak jantung yang masih berdetak cepat, seolah mengatakan: aku tidak kuat, aku tidak mampu.

Tidak ada alasan yang kuat untuk aku berhenti seketika sebenarnya. Aku hanya butuh dipahami, dirasakan, diberi ruang, untuk aku bisa menunjukan, pribadi seperti apa aku ini untuk mereka. Apa sudah terlambat? belumkan?

Sudah banyak batu-batu keras menghantamku, dari yang kecil sampai yang besar. Apalagi yang belum kurasakan? kenyataan yang sedang kualami, sebenarnya sudah menunjukan, bagaimana ironisnya untuk dinikmati. Tapi tetap kunikmati.

Tolong, aku harus bagaimana? karena aku masih cukup kuat untuk menyerah. Karena aku bukan kerikil-kerikil kecil yang selalu diinjak orang, aku masih sebongkah batu besar yang belum mampu untuk dihancurkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s