Bukan Curhat

Kalo sebelumnya ada topik yang harus mikir buat nulis, kali ini asal ketak-ketik aja. Gak tau rada emoh mau nulis sesuatu yang sifatnya privat. Jadi sekarang yang ada diotak gue cuma: kenapa ada yang namanya Spoiled by Phone.
Jadi, selain gue yang ngalamin, temen satu kontrakan gue juga ngelakuin hal yang sama ketika berbicara via telpon dengan pacarnya. Risih. Udah melebihi kadarnya aja buat gue. Kayaknya gue gak segitunya benar dengan pacar, apalagi intonasinya itu kalo udah manja-manjaan, kuping gue rasanya berdengung, lanjut vertigo. Setiap malam gue harus dengerin nada-nada yang gue jadi ngerasa risih akan ucapan-ucapan seperti itu. Gue aja kalo lagi telponan dengan pacar, biasa aja, malah banyak diem kalo bingung mau ngomong apa, gak melebihi kadar yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang memualkan. Hueeekk. Oh kurang panjang ya, hueekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk (stop). Berkali-kali gue mikir kenapa harus bermanjaan ditelpon, sedangkan kita gak berbuat apapun untuk memanjakan pasangan, lewat kontak fisik seperti: belai rambut, elus-elus tangan pasangan, saling menatap mata pasangan, bahkan mungkin dengan sebuah pelukan hangat. Hanya sebuah kata-kata yang sebenarnya belum tentu itu sarat akan makna. Jadi setelah gue nulis ini, gue jadi huekkkk dengan diri gue sendiri pas ngebayangin kelakuan gue yang pernah seperti itu. Hahaha.
Nah. Untuk menghindari spoiled by phone yang melebihi kadarnya itu tadi ketika berbicara dengan pasangan melalui handphone, gue sarani untuk:
1) Bicarakan topik yang sedikit serius mengenai apapun dengan pasangan. Apa aja.
2) Sebisa mungkin buatlah pembicaraan yang mengandung joke ringan ditiap pembicaraan.
3) Hindari keinginan untuk meminta sesuatu yang sifatnya romantis ketika hal itu sangat gak mungkin untuk dilakukan.
4) Disarankan ketika telponan, wajib diselingi musik grunge. Jangan lagu romantis, karena itu akan meng-stimulus kita untuk bersikap melankolis dadakan.
Gaya pacaran jarak jauh terkadang emang ngebuat sesuatu itu jadi serba lebih-lebih. Hubungan tetap jadi semakin intens ketika mengharuskan untuk sering komunikasi. Enggak puas lewat kata-kata, pengennya dengerin suara, enggak puas hanya dengerin suara akhirnya bela-belain buat bisa ketemuan.
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s