0

come back..! 

Aw aw aw, tampilan baru dan long time no see dude..! udah berapa bulan gue gak nyampah di WP iniiii..??? 

Okay. Belum pengen nulis yang panjang-panjang sebenernya, karna gue sendiri masih belum punya bahan untuk dibaca, hehe. Anyway, akan tetap stay trus di blog ini, gak akan bosen juga, karna nulis apapun dengan mengetik, jauh lebih bahagia dibanding gue harus nulis pake (t)angan 📝.
so, ill be back..SOON! 🙆🏃

Iklan
0

Bukan Untuk Dikonsep

Kepalaku mulai berat, tapi aku tetap menunjukan kesanggupanku menahan beban dikepala ini. Orang-orang disekitarku sudah menikmati masa lelapnya dialam mimpi.

Aku hanya diam, dengan mengerutkan dahi yang disekitarnya terdapat beberapa jerawat kecil. Jangankan untuk berdiri dan melangkah, bahkan memejamkan mata walau semenit pun serasa akan kehilangan moment dari pandanganku. Didepanku ada segelas kopi yang gak pernah luput dari kebiasaanku saat mendengarkan lagu. Sekarang jam 01.16 pagi, dan mataku belum sanggup membawaku untuk terlelap, mungkin efek cafein yang aku teguk. Harusnya aku sudah tidur.

Sejak pagi tadi, sebenarnya aku mulai merasakan kegaduhan dipikiranku. Dimulai dari pertanyaan klise untuk diriku sendiri, kemudian dihadiri beberapa hal yang belum terselesaikan selama ini. Intinya, aku seperti didesak sesuatu yang mau gak mau harus aku tuntaskan.

Dari hari ke hari apa yang aku lakukan gak seberapa penting, bahkan teramat sepi dari kesibukan. Layaknya mereka yang memulai pagi dengan rutinitas kantoran, seperti anak-anak yang bersemangat walau mata mengantuk untuk berangkat kesekolah, tapi berbeda dengan aku.

Kadang untuk bangun sepagi mungkin, aku harus mengekstrakan mata yang selalu dimanjakan. Bahkan lebih parahnya, aku biasa memperpanjang masa terberat dipagi hari. Kehidupan pagi memang moment pahit dalam hidupku untuk ditaklukkan.

Sekedar melawan arus dari hal-hal yang seharusnya, aku bernegosiasi dengan hati nuraniku. Lupa kewajiban, bertindak ceroboh, pragmatis akut, semua jadi satu. Hanya karena aku merasa ini semua diluar kapasitasku, lalu sesuka hati menerjang dan berlari kemana pun aku mau.

Mereka gak pernah bertanya: “seperti apa hidup yang kamu inginkan? harus bagaimana kami terhadapmu?”

Harusnya aku mendapatkan kelayakan untuk menuntun secara mandiri garis hidupku. Bukan bearti aku tidak membutuhkan perhatian, atau campur tangan mereka, bukan. Hanya saja aku harus bisa menyatakan kepada orang-orang terhadap hidupku yang sarat akan kebahagian. Dan kebahagian itu layak aku dapati dari apa yang aku jalani.

Sebenarnya aku rada muak untuk terus menceritakan tentang ini. Karena memang gak ada konsep untuk kalian yang membaca tulisan ini.

Anyway, yang merupakan gelar kehidupan bukan soal pangkat atau kekayaan semata, tapi lebih mencari seluk beluk kerikil kebahagian untuk dinikmati sampai… KOPI MENJADI SELERA TINGGI BAGI PENDERITA HYPERTENSI. *lol

0

Sebongkah Batu Besar

Sekarang aku lagi duduk disebuah tempat yang cukup menyenangkan. Warung kopi tepat didepan rumah sakit swasta, dengan area parkiran yang tidak cukup luas. Pandangan mataku selalu tertuju dikeramaian orang yang lalu lalang memasuki rumah sakit, dan lainnya menuju warung kopi ini.

Perutku sudah cukup kenyang setelah menyantap pangsit rebus yang aku pesan didepan warung kopi ini. Dengan segala ketidaknyamanan yang ada dihati dan pikiranku, aku berusaha untuk menikmati saat ini. Bahkan aku berupaya melupakan sedikit demi sedikit hal-hal ironis, yang cukup menekanku hingga beberapa hari ini.

Dua hari ini badanku drop. Pikiranku tidak senyaman orang-orang yang terlihat happy disekitarku. Aku pengen tahu, senyaman apa sih yang mereka rasakan? seperti apa sih cara mereka bisa menikmati keadaan yang aku yakin, mereka juga punya masalah?

Aku yakin, mereka punya cara untuk itu, untuk memperlihatkan bahwa mereka bisa terlihat baik-baik saja.

Tidak seperti aku saat ini. Aku berkaca melihat ketidaknyamanan pada raut wajahku, benar-benar ada yang salah. Bahkan kalo aku bertemu teman-temanku, mereka pasti bertanya: “lesu banget vin, ada apa? ada masalah kah? atau lagi sakit? seperti itulah pertanyaan yang mungkin akan dipaparkan kepadaku.

Ya. Aku adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang sedang kacau. Akan terlihat walau tidak dari raut wajah, karena ada sikap lain yang bisa mereka presepsikan tentang keadaanku saat itu juga.

Aku sangat kacau. Benar-benar kacau. Karena kalo sudah diposisi seperti ini, aku lebih asik menikmati dengan sendiri, sambil menghirup asap yang aku tahu mengandung zat berbahaya. Ingin rasanya berlari sekencang mungkin, sampe aku merasakan lelah yang luar biasa, lalu berbaring dalam kelelahan itu, membiarkan detak jantung yang masih berdetak cepat, seolah mengatakan: aku tidak kuat, aku tidak mampu.

Tidak ada alasan yang kuat untuk aku berhenti seketika sebenarnya. Aku hanya butuh dipahami, dirasakan, diberi ruang, untuk aku bisa menunjukan, pribadi seperti apa aku ini untuk mereka. Apa sudah terlambat? belumkan?

Sudah banyak batu-batu keras menghantamku, dari yang kecil sampai yang besar. Apalagi yang belum kurasakan? kenyataan yang sedang kualami, sebenarnya sudah menunjukan, bagaimana ironisnya untuk dinikmati. Tapi tetap kunikmati.

Tolong, aku harus bagaimana? karena aku masih cukup kuat untuk menyerah. Karena aku bukan kerikil-kerikil kecil yang selalu diinjak orang, aku masih sebongkah batu besar yang belum mampu untuk dihancurkan.

0

Seribu Maaf

Bukan aku gak bisa, bukan aku gak mampu. Tapi ini memang bukan kapasitasku. Mungkin udah banyak yang aku kecewakan, udah banyak yang aku rugikan karena tindakanku. Kalo aja bisa aku capai saat ini, pasti kalian bangga terhadapku. Jika aja aku diberi peluang untuk melakukan apa yang sebenarnya bisa aku perbuat untuk menyenangkan kalian, pasti udah aku lakukan saat ini. Tapi, kalian begitu kekeh memintaku melakukan sesuatu yang diluar potensiku,diluar kemampuanku.

Apa aku bodoh?

mungkin dimata kalian aku seperti itu. Bahkan aku tidak layak untuk dibanggakan. Bertahun-tahun aku lakukan apa yang aku senangi tanpa kalian ketahui, aku coba mendeskripsikan segala potensiku yang ada, tapi aku tidak diketahui. Aku emang tidak banyak bicara kepada kalian, karena aku tahu, kemungkinan besar pasti kalian tidak mendukung itu. Apa yang harus aku perbuat sekarang?

Selama aku bisa membanggakan kalian, pasti akan terus aku lakukan. Tapi bisakah kalian sebentar aja, mendengarkan kata hatiku ini. Sekarang yang aku jalani benar-benar rapuh, dan sulit untuk aku hadapi.

Maaf, kalo aku hanya bisa mengecewakan kalian, hanya bisa merugikan kalian. Aku yakin kalian pasti sedih, bahkan malu untuk melihat kenyataan yang aku lakukan ini. Tapi aku sendiri lebih malu, kalo aku tidak menjadi sesuai apa yang aku inginkan. Orang-orang sekitarku sekarang bahkan secara tidak langsung meremehkanku, mengucilkanku, bahkan menganggapku tidak bisa apa-apa dengan apa yang sekarang aku jalani.

Sekali lagi maaf. Maaf buat hal bodoh ini. Aku memang seperti ini, seperti yang telihat sekarang. Tapi aku yakin, entah kapan pun itu, selama Tuhan masih mengasihiku, selama Tuhan masih membawaku sesuai kehendak-Nya, aku pasti bisa mendapatkan kesuksesan itu. Akan aku tunjukan kalo aku bisa menjadi pribadi yang terpandang.

I LOVE YOU, MY PARENTS.

0

Jika Gagal, Jangan Berhenti.

Sebuah proses adalah rotasi kehidupan. 
Berputarlah bersama proses itu,  jangan berbalik arah. 
Akan ada reward disana.. 
Aku gak tau darimana bisa berpikiran seperti kalimat diatas. Yang jelas, kalimat itu udah mengarahkan beberapa pandangan aku,  untuk melanjutkannya. Sebenarnya memang berat, tapi jujur aja, itu selalu ada benarnya. Dan terkadang manusia seperti aku, perlu dibangunkan, bahkan ditampar dengan pernyataan diatas. Perlu banget.
Oke. Tidak ada hal menarik yang akan aku tulis dipostingan ini. Cuma kalo lagi merasa ada hal yang gak ngenakin perasaan aku yang terdalam, rasanya gak lepas aja. Jadi, aku harus tumpahkan  disini aja. Kalo kalian yang lagi baca postingan ini, mungkin kalian lagi dengerin curhatnya aku sekarang 😀
Ngomong-ngomong soal gagal, aku selalu diingatin dengan beberapa cacatan masa lalu aku yang bisa dikategorikan ironis. Hampir segala aspek kehidupanku, diwarnai kondisi gagal. Hampir lho ya, bukan sudah gagal. Bahkan kalo sudah gagal, aku gak akan bunuh diri. Hahaha. Karna kebanyakan orang pasti berbuat begitu tuh, ngerasa gak berguna lagi, merasa sudah gagal, putus asa, malah bunuh diri. Ada lho. Padahal, gagal itu bagian dari proses, salah satu aspek kehidupan yang emang harus dirasakan kalo sedang terjadi. Ya, mungkin mereka yang berbuat begitu, tidak memandang kegagalan dari sudut pandang yang sebenarnya, punya dampak positif nantinya. So, terjadilah hal bodoh, menurut aku.
Kalo sudah begini, dan gak mampu untuk menguatkan diri sendiri, sangat perlu dikuatkan oleh orang-orang terdekat mereka, supaya mental mereka tetap stabil. Memberikan dorongan yang membentuk sudut pandang mereka, atas kegagalan mereka, menjadi suatu hal yang membuat diri mereka bisa berjiwa besar terhadap apa yang sudah mereka tempuh, walau belum berhasil. Aku sendiri salah satu dari kalian yang pernah merasakan kegagalan. Dan sekarang, aku masih diproses oleh kebijakan waktu yang aku yakin, suatu saat akan dipertemukan oleh kesuksesan itu sendiri. Sok bijak ya gue? 😀 tapi itulah yang emang terjadi ketika aku merasakan kalo, yang namanya manusia butuh diproses. Dan proses itu, bisa dalam bentuk apapun.
Ada yang gagal, lalu seketika itu juga menyalahkan diri sendiri begitu keras. Ada juga yang gagal, lalu menyalahkan orang lain. Sebenarnya, apa sih yang membuat kita bisa gagal? dan kenapa sih kita harus merasakan kegagalan itu?. kalo menurut yang pernah hampir gagal (kayak aku contohnya. ya aku), kita tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi orang yang gagal. Kita ditakdirkan untuk menjadi pemenang pada hakikatnya. Lalu kenapa kita bisa gagal, tanyakan pada diri sendiri. Itu saja. Orang yang gagal itu adalah orang sudah punya pengalaman dengan sendirinya, untuk bisa melihat kedepan, untuk bisa melihat akan melakukan apa dikesempatan berikutnya. Karena yang tidak pernah mencoba, adalah mereka yang gagal pada umumnya. 
Jadi, jangan berkecil hati jika kalian merasa gagal, disaat sudah mencoba. Tetapi merasa gagallah ketika belum mencoba, disaat ada kesempatan. Have fun with the process. Because the process is a wilderness to grow palm.